Breaking News
Loading...

MAJAPAHIT BUKAN KESULTANAN ISLAM (5)

Argumen kelima yang dipergunakan oleh Herman Sinung Janutama adalah sebagai berikut  :

Di samping itu, Gajah Mada yang menjadi Patih Majapahit yang sangat terkenal terutama karena Sumpah Palapanya ternyata adalah seorang muslim. Hal ini karena nama aslinya adalah Gaj Ahmada, seorang ulama Islam yang mengabdikan kemampuannya dengan menjadi Patih di Kerajaan Majapahit. Hanya saja, untuk lebih memudahkan penyebutan yang biasanya berlaku dalam masyarakat Jawa, maka digunakan Gajahmada saja. Dengan demikian, penulisan Gajah Mada yang benar adalah Gajahmada dan bukan ‘Gajah Mada’. Pada nisan makam Gajahmada di Mojokerto pun terdapat tulisan  ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’ yang menunjukkan bahwa Patih yang biasa dikenal masyarakat sebagai Syeikh Mada setelah pengunduran dirinya sebagai Patih Majapatih ini adalah seorang muslim.

Penulis adalah penduduk Mojokerto, dan sejak tahun 2004 telah aktif menelusuri jejak-jejak kebesaran Majapahit yang tersisa di wilayah Kabupaten Mojokerto, khususnya di wilayah Trowulan yang terkenal sebagai pusat kerajaan Majapahit. Hingga tulisan ini dibuat, penulis belum pernah sekalipun menemukan makam Gajah Mada di wilayah Trowulan (Mojokerto). Dengan demikian apa yang diungkap oleh Herman Sinung Janutama perihal makam Gajah Mada (di Mojokerto) adalah merupakan suatu rekayasa sejarah yang menyesatkan, terutama bagi generasi muda mendatang. Satu-satunya petilasan Gajah Mada (menurut kepercayaan masyarakat) adalah berupa petilasan yang terkenal dengan petilasan Mbah Jamong, berada di daerah Lebak Jabung, Kecamatan Jatirejo yang berbatasan dengan wilayah Jombang, tempat ini dipercaya sebagai tempat moksa-nya Gajah Mada. Perhatikan foto-foto berikut ini.

Petilasan Gajah Mada dari luar


Foto Prasasti Pembangunan kembali komplek petilasan Gajah Mada


 Foto bagian dalam petilasan Gajah Mada


Terlihat dengan jelas bahwa petilasan Gajah Mada tersebut di atas bukanlah sebuah makam, dan memang tidak pernah ada makam di komplek tersebut.

Perihal nama atau sebutan Gajah Mada, baiklah kita teliti fakta sejarah yang berupa piagam atau prasasti Singasari (D 111)  yang berangka tahun 1273 Saka (27 April 1351) yang dikeluarkan oleh Rakryan Mapatih Mpu Mada atau Gajah Mada sendiri (lihat J.L.A Brandes, ROC, 1904, hal. 4 - 5). Prasasti ini menjelaskan perihal adanya pahom narendra yang disebut dengan Bhattara Saptaprabhu  yang merupakan suatu Dewan Pertimbangan Kerajaan. Dalam prasasti tersebut dijelaskan kepada kita nama Gajah Mada yang sebenarnya adalah Mpu Mada dengan gelar jabatan Rakryan Mapatih

Lebih jauh lagi bila kita teliti kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca seorang pujangga Majapahit yang merupakan saksi sejarah kebesaran Majapahit di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, (karena ia hidup di jaman pemerintahan prabu Hayam Wuruk) di dalam pupuh XII/4 menjelaskan kepada kita :
"Di Timur Laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada negara, fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur, tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara".

Demikianlah jelas bahwa nama yang sebenarnya adalah Mpu Mada (menurut prasasti Singasari tahun 1273 Saka) dan Gajah Mada (menurut Negarakertagama yang selesai ditulis oleh Mpu Prapanca di sekitar tahun 1365).

Dengan demikian apa yang ditulis oleh Herman Sinung Janutama dengan menyebutkan makam Gajah Mada di Mojokerto serta nama Gajah Mada yang sebenarnya adalah Gaj Ahmada, pada dasarnya adalah imajinasi-nya sendiri dan sama sekali tidak ditunjang dengan fakta-fakta sejarah yang ada. Jelas terkesan di sini adanya upaya-upaya pembelokan sejarah yang dilakukan secara terang-terangan, yang pada dasarnya hendak mencari legitimasi-semu belaka.

Selanjutnya, dipersilahkan untuk membaca bagian terakhir


2 komentar:

  1. Saya setuju dengan tulisan ini. Saya pengagum kerajaan Mojopahit tidak rela fakta sejarahnya dibelokkan dengan imajinasi untuk mendapatkan / mendompleng ketenaran. Dan saya sungguh sangat melecehkan yang membelokkan fakta sejarah, bukan saja sejarah Mojopahit tetapi juga sejarah lainnya demi keuntungan sendiri maupun kelompoknya

    BalasHapus
  2. rujukannya aja buku hasil sejarawan barat malah bikin tambah ragu aje ama tulisan ini...hehe

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer