Breaking News
Loading...

Kampung Budaya Majapahit menggeliat lepas

MAJAPAHIT. Pembangunan Rumah Budaya Majapahit yang dibangun pada kawasan cagar budaya peringkat nasional Trowulan akan terus bertambah sampai 296 rumah yang nantinya menjadi Kampung Majapahit. Rumah-rumah warga di kawasan tesebut dipugar bervariasi menurut plafon anggaran yang menyesuaikan dengan ukuran bangunan tiap rumah. Rata-rata setiap rumah dijatah Rp 50 juta untuk dipugar menjadi rumah model zaman Kerajaan Majapahit. Sejak mulai dibangun November lalu, baru beberapa rumah yang selesai dipugar. Proses pengerjaan bangunan membutuhkan waktu lama karena harus benar-benar sesuai desain yang telah ditetapkan. Setidaknya setiap rumah butuh waktu pengerjaan 1 bulan lebih, namun menurut Drs. Aris Soviyani, SH, M. Hum., Kepala BPCB Mojokerto wilayah kerja Provinsi Jawa Timur menyampaikan, pembangunan ini ditargetkan selesai pada akhir tahun 2015.

Majapahit Blog


Kampung Kerajaan Majapahit semakin menunjukkan bentuknya. Beberapa rumah di Desa Bejijong Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kemarin berhasil disulap menjadi rumah rakyat zaman Kerajaan Majapahit.

"Alhamdulillah sudah selesai ini bangunan rumahnya," kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo dalam rilis yang dikeluarkan pemerintah Provinsi Jawa Timur, Rabu, 6 Januari 2016.

Pemerintah provinsi sendiri telah membangun rumah warga dengan menggunakan model bangunan zaman Majapahit sebanyak 194 unit rumah di Desa Bejijong.

Pembangunan itu dilakukan dalam dua tahap, yakni tahap pertama pada 2014 sebanyak 94 unit rumah dengan dana sebesar Rp 4,98 miliar, dan tahap kedua pada 2015 sebanyak 100 unit rumah dengan dana sebesar Rp 5,7 miliar.
Sedangkan tahap berikutnya, yakni tahap ke-3 pada 2016 ini, rencananya akan dibangun sebanyak 300 unit rumah di tiga tempat, yakni di Segaran, Candi Tikus, dan Candi Bajang Ratu.

Untuk pembangunan rumah dengan bangunan zaman Majapahit ini per unitnya dianggarkan dana Rp 50-60 juta, dengan ukuran 3 x 5 meter atau 4 x 4 meter.

"Dana pembangunan rumah dari APBD Provinsi dan pembangunan pagar dananya dari APBD Mojokerto," kata Soekarwo.

Menurut Soekarwo, pembangunan tersebut sebagai bentuk restorasi Majapahit yang menjadi kekayaan kultural. Selain itu, sebagai sebuah destinasi dan budaya, kultural Majapahit harus dibangun. "Ini upaya mengelola kekayaan budaya yang besar dan agung," katanya.

Untuk memperkuat destinasi budaya, harus diadakan acara budaya setiap tahun. "Acara seperti ruwatan, misalnya, perlu diadakan," kata Soekarwo.

Selain rumah, pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten sudah melakukan penelitian tentang makanan khas yang ada saat Kerajaan Majapahit berdiri. Hal ini diperlukan agar nantinya masyarakat dapat menyediakan makanan-makanan khas Majapahit sebagai pilihan kuliner para pengunjung.

"Alat transportasi, seperti kuda, dokar, dan cikar, juga akan menjadi transportasi resmi di sini," ujarnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer