
Pada masa pemerintahannya, Ranawijaya berusaha pula untuk mempersatukan kembali wilayah kerajaan Majapahit yang telah terpecah-pecah akibat pertentangan keluarga memperebutkan kekuasaan di Majapahit. Untuk melaksanakan cita-citanya tersebut, maka pada tahun Saka 1400 (1478 M) ia melancarkan peperangan terhadap Bhre Kertabhumi yang pada waktu itu berkedudukan di Majapahit. Sebagaimana telah diketahui bahwa Bhre Kertabhumi ini telah merebut tahta kerajaan Majapahit dari tangan Bhre Pandan Salas (ayah Ranawijaya) pada tahun 1468 M. Oleh karenanya, tindakan Ranawijaya menyerang Bhre Kertabhumi ini pada dasarnya merupakan revanche (tindakan balasan) atas perbuatan Bhre Kertabhumi tersebut. Dalam peperangan tersebut Ranawijaya berhasil merebut kembali kekuasaan Majapahit dari tangan Bhre Kertabhumi, dan Bhre Kertabhumi gugur di kadaton. Peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi ini disebutkan pula di dalam Kitab Pararaton (" .... bhre Kertabhumi ..... bhre prabhu sang mokta ring kadaton i saka sunyanora-yuganing-wong, 1400", Pararaton, hal 40. Lihat pula : Hasan Djafar, Girindrawardhana, 1978, hal. 50). Dari uraian kitab Pararaton inilah kemudian muncul candrasengkala 'Sirna ilang kertining bhumi' , oleh karenanya candrasengkala tersebut pada dasarnya adalah merupakan peringatan tentang peristiwa gugurnya Bhre Kertabhumi di kadaton akibat serangan dari Dyah Ranawijaya dan bukan candrasengakala untuk memperingati keruntuhan Majapahit akibat serangan kerajaan Islam Demak.
Peristiwa serangan Ranawijaya terhadap Bhre Kertabhumi ini disebutkan di dalam prasasti Jiwu I yang dikeluarkan oleh Ranawijaya pada tahun 1486 M. Prasasti tersebut dikeluarkan sehubungan dengan pengukuhan anugerah tanah-tanah di Trailokyapuri kepada seorang brahmana terkemuka Sri Brahmaraja Ganggadhara yang telah berjasa kepada raja (Ranawijaya) sewaktu perang melawan Majapahit (Bhre Kertabhumi) sebagai ternyata dalam kalimat "duk ayunayunan yuddha lawaning Majapahit".
Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 M, diketahui adanya upacara sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya Paduka Bhattara ring Dahanapura. Tokoh Bhattara ring Dahanapura ini dapat diidentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawarddhana (Lihat : Martha A Muuses "Singhawikramawarddhana", FBG, II, 1929, hal 207-214, lihat pula Zoetmulder ,P.J "Djaman Empu Tanakung", Laporan KIPN-II, VI, Seksi D, 1965, hal.207), yang telah meninggalkan istana Majapahit pada tahun 1468 M akibat serangan dari Bhre Kertabhumi.
5 komentar
Bhre Kerthabumi bukanlah seorang pemberontak, melainkan putra dari Rajasawardhana, yang juga berhak atas kraton Majapahit, maka dari itu terjadilah perang saudara dan perebutan kekuasaan.....
BalasYah banyak yang berasumsi bahwa kerajaan Majapahit berakhir di tahun 1478 M, padahal kan tidak begitu kenyataannya ..., salam.
Balassilsilah jng dihilangkan dr sejarah,,samapai sekarang keturunan raja majapahit atau patih gajah mada pun tidak terlacak
Balassiapakan keturunan patih gajah mada sekarang?
BalasMaaf link hidup tidak akan tampil di sini!
BalasSilahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)