Breaking News
Loading...

RAJA-RAJA DAN PATIH KERAJAAN MAJAPAHIT (3)

Majapahit 1478Tribhuwanatunggadewi yang bergelar Tribhuwanatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani, memerintah dari tahun 1328 M sampai dengan tahun 1350 M.

Beliau adalah puteri Sanggramawijaya dari perkawinannya dengan permaisuri Gayatri (puteri raja Kertanegara dari Singosari yang gugur karena serangan Jayakatwang dari Gelang-Gelang pada tahun 1292 M). Beliau memiliki adik seorang puteri yang bernama Dyah Wiyah Rajadewi Maharajasa.

Tribhuwanatunggadewi menaiki tahta kerajaan Majapahit menggantikan Jayanegara yang telah mati dibunuh oleh Tanca (seorang dharmaputera), yang pada akhirnya mati dibunuh oleh Gajah Mada. Peristiwa pembunuhan oleh Tanca ini terjadi pada tahun 1250 Saka (1328 M).

Setelah peristiwa pembunuhan oleh Tanca inilah kemudian Tribhuwanatunggadewi menikah dengan Kertawardhana, yang dalam prasasti Trawulan berangka tahun 1358 pada lempengan I menyebutkan asal-usulnya secara panjang lebar. Dikatakan bahwa Kertawardhana adalah keturunan Bhatara Wisnuwardhana dari Singosari yang bernama Cakraiswara dan bergelar Panji Seminingrat. Oleh karenanya, baik Tribhuwanatunggadewi maupun Kertawardhana adalah sama-sama keturunan raja Singasari Wisnuwardhana.

Secara resmi Tribhuwanatunggadewi memegang pemerintahan kerajaan Majapahit segera setelah Jayanegara mangkat, dengan mengambil nama abhiseka Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani. Hal ini terbukti dari penuturan prasasti Berumbung berangka tahun 1329M.

Kitab Pararaton menjelaskan bahwa sehabis peristiwa pembunuhan oleh Tanca, yang menjadi Patih Amangkubhumi adalah Arya Tadah. Dengan demikian pada awal masa pemerintahannya (1328 M), Tribhuwanatunggadewi didampingi oleh Patih Amangkubhumi Arya Tadah. Namun diperoleh pemberitaan bahwa sejak tahun Saka 1251 (1329 M), Arya Tadah sering sakit-sakitan, dan oleh karenanya ia sering absen menghadap Sang Rani, dan mengajukan permohonan agar dibebaskan dari jabatan Patih Amangkubhumi. Namun permintaan ini ditolak oleh Sang Rani. Sudah pasti Arya Tadah merasa bahwa ia bukan orang yang tepat untuk menduduki jabatan Patih Amangkubhumi. Selanjutnya Arya Tadah meminta Gajah Mada untuk menggantikan posisinya sebagai Patih Amangkubhumi di Majapahit, namun permintaan ini tidak segera dijawab oleh Gajah Mada.

Kita periksa sekarang, siapakah sebenarnya Patih Amangkubhumi Arya Tadah ini, karena nama itu tidak terdapat pada prasasti manapun dan hanya tercatat dalam Kitab Pararaton. Kitab Pararaton memberikan petunjuk bahwa Arya Tadah sering sakit dan mengajukan permohonan berhenti kepada Tribhuwanatunggadewi pada tahun 1329 M, yang bertepatan dengan pengeluaran prasasti Berumbung (1329 M). Prasasti tersebut tidak menyebutkan nama Arya Tadah sebagai Patih Amangkubhumi, yang tercatat pada baris kelima adalah " ...rakryan mapatih namawisita : Pu Krewes". Atas dasar uraian dari prasasti tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Arya Tadah (yang disebutkan dalam Kitab Pararaton) adalah identik atau sama dengan Pu Krewes (yang diuraikan dalam prasasti Berumbung).

Kesimpulannya adalah, setelah peristiwa Ra-Tanca, maka kedudukan Dyah Halayudha digantikan oleh Arya Tadah (Pu Krewes) yang menjabat sebagai Patih Amangkubhumi sejak tahun 1328 M.

Kitab Pararaton memberitahukan bahwa sehabis peristiwa Sadeng (PaSadeng) pada tahun 1331 M


Penulis : J.B. Tjondro Purnomo ,SH

Bersambung ......... ke bagian keempat

2 komentar:

  1. Bagian keempatnya kok tidak ada linknya ya

    BalasHapus
  2. Mohon informasi link bagian keempatnya. Informasinya sangat menarik dan bermanfaat.

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer