Breaking News
Loading...

CANDI SUKUH, CANDI TERTUA DI PULAU JAWA ? (2)

MAJAPAHIT 1478. Artikel tentang Candi Sukuh, candi tertua di Pulau Jawa bagian yang kedua ini merupakan lanjutan dari bagian yang pertama yang berkisah tentang penciptaan pulau Jawa dan penciptaan manusia Jawa untuk yang pertama kalinya.

Proses Terjadinya Peradaban Manusia (di tanah Jawa)
Pada mulanya manusia Jawa itu telanjang bulat karena tidak dapat membuat pakaian, tidak tinggal di dalam rumah, tidak dapat berbicara, dan oleh karena itu dapat dikatakan, bahwa manusia pertama yang tinggal di pulau Jawa belum mempunyai peradaban. Untuk itu para dewa diberi tugas oleh Bathara Guru untuk "memberi pelajaran" kepada manusia (Jawa), supaya mereka dapat membuat pakaian, membuat rumah, dapat berbicara antara satu sama lainnya. Pada intinya para dewa mengajar manusia Jawa tentang budaya dan peradaban. 
Untuk itu baiklah kita periksa gambar-gambar di bawah ini yang menggambarkan manusia-manusia Jawa yang telanjang bulat.

Majapahit 1478
Gambaran manusia Jawa yang pertama, telanjang bulat

Bagian yang dikutip dari kitab Tantu Panggelaran untuk babak ini (peradaban manusia Jawa) adalah :

Demikianlah kata Bathara Mahakarana (istilah lain dari Batara Guru):
Anakku, Brahma, turunlah engkau ke Pulau Jawa, pertajamlah benda-benda tajam, misalnya: panah, parang, pahat, pantek, kapak, beliung, segala pekerjaan manusia. Engkau akan disebut pandai-besi. Engkau akan mempertajam benda-benda tajam itu di tempat yang bernama Winduprakasa. Ibu jari (kawi : empu) kedua kakimu mengapit dan menggembleng, besi anak panah dikikir. Panah itu menjadi tajam oleh ibu jari kedua kaki, maka dari itu engkau akan disebut Empu Sujiwana sebagai pandai-besi, karena ibu jari/empu dari kakimu mempertajam besi. Oleh karena itu, tukang pandai-besi disebut empu, karena ibu jari kakinya menjadi alat bekerja. Demikianlah pesanku kepada anakku.
Untuk bagian ini baiklah kita periksa relief di bawah ini :

Majapahit 1478
Relief yang menggambarkan Bathara Brahma mengajar pembuatan alat-alat

Lagi pesanku kepada anakku Wiswakarmma. Turunlah ke Pulau Jawa membuat rumah, biar dirimu ditiru oleh manusia. Sebab itu, engkau dinamai Hundahagi (membangun).
Adapun engkau Iswara. Turunlah ke Pulau Jawa. Ajarlah manusia ajaran berkata-kata dengan bahasa, apalagi ajaran tentang Dasasila (sepuluh hal yang utama) dan Pancasiska (lima hukum/tata tertib). Engkau menjadi guru dari kepala-kepala desa, sehingga engkau dinamai Guru Desa di Pulau Jawa.
Majapahit 1478
 Pengajaran tentang Dasasila dan Pancasiska
Adapun engkau Wishnu. Turunlah engkau ke Pulau Jawa. Biarlah segala perintahmu dituruti oleh manusia. Segala tingkah lakumu ditiru oleh manusia. Engkau adalah guru manusia, hendaknya engkau menguasai bumi.
Majapahit 1478
Bathara Wishnu yang menjadi Guru manusia Jawa

Adapun engkau Mahadewa, turunlah engkau ke Pulau Jawa. Hendaknya engkau menjadi tukang pandai emas dan pembuat pakaian manusia.
Bhagawan Ciptagupta hendaknya melukis dan mewarnai perhiasan, serta membuat hiasan yang serupa dengan ciptaan, menggunakan alat ibu jari tanganmu. Oleh karena itu engkau akan dinamai Empu Ciptangkara sebagai pelukis.

Analisis  :
Kitab Tantu Panggelaran adalah sebuah teks prosa yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia di pulau Jawa dan segala aturan yang harus ditaati manusia. Tantu Panggelaran ini ditulis atau dikisahkan dengan menggunakan bahasa Jawa Pertengahan pada zaman kerajaan Majapahit. Suntingan teks yang sangat penting telah terbit pada tahun 1924 di Leiden oleh Dr. Th. Pigeaud.

Tantu Panggelaran berisi tentang etiologi alam semesta. Tantu Panggelaran ditulis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan etiologis, misalnya, mengapa ada gempa bumi, mengapa ada gerhana matahari, mengapa ada gunung-gunung yang tersebar di pulau Jawa, mengapa ada manusia di pulau Jawa, mengapa ada biji hijau, hitam, putih, tetapi tidak ada biji kuning, mengapa ada bahasa, mengapa manusia membuat rumah, pakaian, dan lain sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan etiologis ini dijawab dalam cerita Tantu Panggelaran. Cerita yang menjawab pertanyaan etiologis ini banyak terdapat dalam dunia oriental kuna. Contoh yang paling mudah didapat adalah di dalam kitab suci umat Kristen (Injil/Alkitab). Di sana diceritakan juga, bahwa manusia dibuat dari tanah liat dan menurut rupa Tuhan, manusia semula berbahasa satu dan berkumpul bersama di Babel membangun menara, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru bumi, dan pertanyaan-pertanyaan etiologis ini banyak dijawab dalam mitos-mitos tersebut.

Selain itu cerita ini (Tantu Panggelaran) sangat mementingkan proses pengaturan alam semesta, dari dunia yang khaos menjadi dunia yang teratur (kosmos). Hal ini juga dapat ditemui dalam cerita-cerita orientalis kuna. Para Dewa ini sangat menghargai dunia yang teratur. Motif ini dijumpai dari cerita-cerita Yunani kuna sampai cerita-cerita India.

Selain itu juga terdapat motif "pembangunan masyarakat beradab" atau cerita etiologis tentang munculnya peradaban manusia. Hal ini juga dapat dibandingkan dengan Kodex Hammurabi di Babilonia yang berisi hukum-hukum bagi keteraturan masyarakat setempat.

Di samping itu terdapat perbedaan teologis antara cerita Jawa Pertengahan ini dengan teologi Hindu di India. Di dalam kisah ini diceritakan bahwa Batara Guru adalah ayah dari dewa-dewa yang lainnya. Gunung menjadi tempat yang keramat, tempat para dewa. Motif ini juga terdapat dalam dunia teologis orientalis. Ishak dipersembahkan di gunung Moria (Yerusalem). Zarathustra atau Zoroaster ketika berkotbah juga naik ke gunung. Firaun membuat piramida yang juga melambangkan gunung. Agama masyarakat Indonesia kuna juga membuat punden berundak-undak yang juga melambangkan gunung. 

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dalam hal ini penulis berkesimpulan bahwa Candi Sukuh merupakan Candi yang tertua di Pulau Jawa karena menceritakan tentang awal mula terjadinya pula Jawa berikut dengan kisah penciptaan manusia Jawa lengkap dengan kisah tentang munculnya peradaban di pulau Jawa. Semoga uraian ini membawa manfaat serta dapat membuka wawasan berpikir yang baru tentang Candi Sukuh.

(Selesai).

1 komentar:

  1. Mantap, sebuah wawasan berpikir yang baru, dapat memberikan image yang baru tentang Candi Sukuh.

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer