Breaking News
Loading...

CANDI SUKUH, CANDI TERTUA DI PULAU JAWA ? (1)

MAJAPAHIT 1478. Candi Sukuh, Candi tertua di Pulau Jawa dalam hal ini dapat dibuktikan dari beberapa hal dan fakta yang ada di lapangan, khususnya yang berkaitan dengan uraian atau gambaran yang diuraikan dalam kompleks Candi Sukuh tersebut serta berkaitan dengan model atau bentuk relief-relief yang ada (yang lebih sederhana bila dibandingkan dengan model-model relief yang ada di Candi Borobudur).

Memang pada faktanya pada kompleks Candi Sukuh ini telah diketemukan beberapa angka tahun, yaitu pada pada teras pertama candi yang bertuliskan “Gapura sang raksasa memangsa manusia”, kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1, jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi dan pada teras kedua candi yang bertuliskan “Gajah pendeta menggigit ekor” dalam bahasa Indonesia kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1, jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi. Namun satu pertanyaan yang paling mengganjal adalah, "Apakah angka-angka tahun yang tertulis tersebut merupakan angka tahun yang menunjukkan pembangunan candi ? Apakah tidak mungkin bahwa angka-angka tahun tersebut merupakan angka tahun yang menunjukkan tahapan perbaikan atau renovasi candi pada masa akhir kerajaan Majapahit ?". Fakta selanjutnya, angka-angka tahun yang terurai di atas pada dasarnya hanya terukir pada bagian gapura-gapura (sebagai pintu masuk kompleks candi) dan bukan terukir pada bagian bangunan utama Candi. Dan pertanyaan akhirnya adalah, "Kapan bagian utama dari Candi Sukuh ini dibangun ?".


Candi Sukuh dalam perspektif Kitab Tantu Panggelaran

Kitab Tantu Panggelaran atau Tangtu Panggelaran adalah kitab Jawa kuno berbahasa Kawi yang berasal dari masa Majapahit sekitar abad ke-15. Kitab ini berkisah tentang mitos asal mula pulau Jawa. Dalam kitab ini dikisahkan Bathara Guru memerintahkan Bathara Brahma dan Bathara Wishnu untuk mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau Jawa saat itu masih mengambang di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang, maka para dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Mahameru di India ke atas Pulau Jawa.

Dalam menjalankan tugasnya tersebut, Bathara Wishnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Bathara Brahma menjelma menjadi seekor ular naga raksasa yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura tersebut sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Perhatikan bentuk Candi Sukuh (candi utama) di bawah ini :

Majapahit 1478
Bangunan Utama Candi Sukuh

Dari gambar tersebut dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa :
  • Bangunan utama Candi Sukuh yang berbentuk seperti piramida adalah merupakan manifestasi atau lambang gunung Mahameru (yang dipindahkan dari India ke Pulau Jawa).
  • Tiga ekor kura-kura raksasa pada dasarnya merupakan penjelmaan dari Bathara Wishnu (yang bertugas untuk memindahkan gunung tersebut).

Proses pemindahan Gunung Mahameru menurut Kitab Tantu Panggelaran.
Para Dewa mengangkat puncak gunung Mahameru (Gunung Semeru) dari India dan ditempatkan di sebelah Barat pulau Jawa. Namun yang terjadi adalah, bahwa pulau Jawa terjungkit dan sebelah Timur pulau Jawa terangkat ke atas. Oleh karena itu para dewa memindahkannya ke sebelah Timur, tetapi dalam perjalanan pemindahan gunung itu ke sebelah Timur, gunung tersebut berceceran di sepanjang jalan, salah satu ceceran utamanya adalah gunung Pawitra (Gunung Penanggungan) dan lainnya adalah membentuk gunung Lawu, Wilis, Kelut, Kawi, Arjuna, Kumukus dan pada akhirnya Semeru. Setelah itu keadaan pulau Jawa tidak bergoncang lagi.
Majapahit 1478
Lambang atau gambaran gunung Pawitra (Penanggungan)

Pada faktanya di atas gunung Pawitra (Penanggungan) ini sampai saat ini banyak (sekitar 81 buah) diketemukan kompleks candi-candi kecil pada bagian lerengnya, sehingga gunung ini terkenal sebagai tempat tinggal para dewa (kajian terhadap gunung ini akan dibahas pada artikel tersendiri).


Kisah penciptaan manusia di Pulau Jawa menurut Kitab Tantu Panggelaran.
"Setelah pulau Jawa tidak lagi bergoncang, Bathara Guru ingin membuat manusia sebagai penghuni tanah pulau Jawa. Untuk itu dia memerintahkan Bathara Brahma dan Bathara Wisnu menciptakan manusia. Mereka menciptakan manusia dari tanah yang dikepal-kepal lalu dibentuk manusia berdasarkan rupa dewa. Bathara Brahma menciptakan manusia laki-laki dan Bathara Wishnu menciptakan manusia perempuan, yang kemudian kedua manusia ciptaan para dewa tersebut dipertemukan dan mereka hidup saling mengasihi"
Perhatikan gambar dari kompleks Candi Sukuh di bawah ini  :

Majapahit 1478
Gambaran tentang kisah penciptaan manusia tanah Jawa

Perhatikan relief Ular Naga di bawah masing-masing manusia perempuan dan laki-laki. Ular Naga tersebut pada dasarnya adalah lambang dari Bathara Anantaboga (Dewa Ular yang berwujud Naga). Bathara Anantaboga (dalam kepercayaan asli Jawa) adalah penguasa bumi tingkat (sap) ke tujuh dan istananya di sebut dengan Saptapratala (Saptabhumi). Dengan demikian, dalam hal ini semakin menjelaskan bahwa manusia Jawa pertama kali di ciptakan dari bumi (tanah yang dikepal-kepal).

Selanjutnya mari kita periksa lambang-lambang (pahatan relief) di bagian atas relief manusia, seperti dalam gambar berikut ini :

Majapahit 1478
Lambang-lambang dalam kisah penciptaan manusia Jawa

Bagian paling atas (tengah) merupakan lambang dewa tertinggi (Bathara Guru), lambang di atas kepala manusia wanita (perempuan) merupakan lambang Bathara Wishnu, sedangkan lambang di atas kepala manusia laki-laki melambangkan Bathara Brahma. Dengan demikian relief atau pahatan ini menjelaskan kepada kita bahwa penciptaan manusia Jawa atas perintah Bathara Guru, dan Bathara Wishnu kemudian membuat manusia wanita (perempuan) sedangkan Bathara Brahma membuat manusia laki-laki.


(Bersambung ke ............ bagian kedua)

5 komentar:

  1. Suatu kisah ilmiah yang Revolusioner, semoga dapat membuka wawasan Manusia Jawa tentang jati dirinya. Rahayu, rahayu, rahayu, sagung dumadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasi saudara, semoga manusia Jawa dapat kembali ke jati dirinya sendiri. Amin.

      Hapus
  2. Saya pribadi sangat setuju dengan pendapat anda dalam artikel ini, memang untuk dapat mengerti makna tersirat dari Candi Sukuh ini haruslah mempergunakan referensi Kitab Tantu Panggelaran. Semoga dapat menjadi wawasan atau referensi baru.

    BalasHapus
  3. Secara sifat atau makna hakiki saya setuju dengan argumentasi anda, salam

    BalasHapus
  4. Berikut candi tertua di indonesia:
    Candi Arjuna & Bima dataran tinggi dieng jawa tengah abad ke 6 sekitar tahun 500 - 601
    Candi Gunung Wukir 732 Masehi (654 tahun Saka), magelang. jawa tengah
    Candi Badut & Wurung 760 Masehi malang, jawa timur
    Candi Kalasan 778 Masehi, solo jawa tengah
    Candi Borobudur 800 Masehi magelang, jawa tengah
    Candi Mendut 824 Masehi magelang, jawa tengah
    Candi Prambanan 850-an Masehi, Yogyakarta
    Candi Gapura Bajang Ratu 1328 Masehi, Mojokerto jawa timur
    Candi Jabung 1350 Masehi, Mojokerto Jawa timur
    Sepertinya sebutan untuk Candi Sukuh 1350 Masehi Tertua di pulau jawa masih terlalu jauh.
    Penelitian ahli sejarah & purbakala masih menyebutkan Candi Arjuna & Bima masih memegang kandidat tertua di pulau jawa abad ke 6 sekitar tahun 500 - 601

    Bagaimana kalo Prasasti Ciaruteun bogor, jawa barat sekitar abad ke 4 sekitar 400 masehi.....jauh lebih tua.
    Hayoooo.....diklarifikasi kembali ya pak.

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer