Breaking News
Loading...

Candi Sukuh, media suci untuk meruwat diri

MAJAPAHIT 1478. Candi Sukuh, sebuah media untuk meruwat diri. Candi Sukuh adalah candi terakhir peninggalan Kerajaan Majapahit. Berada di kaki Gunung Lawu, arsitektur Candi Sukuh tampak berbeda dari candi jaman kerajaan Majapahit yang lainnya. Inilah salah satu media suci untuk meruwat diri.

Ruwatan merupakan tradisi ritual (budaya) Jawa yang usianya sudah sangat lama. Sejak zaman Hindu dan Buddha hingga kini, tradisi ruwatan masih terus dijalankan oleh masyarakat Jawa. Ruwat artinya luwar atau lepas. Ruwatan dilakukan sebagai bentuk permohonan agar lepas dari segala macam malapetaka. Malapetaka yang sesungguhnya muncul karena laku manusia yang tidak pada tempat atau kedudukannya.

Masyarakat Jawa memandang perjalanan hidup sebagai cermin diri. Perjalanan itu lalu membawanya pada kesadaran akan keadaan diri yang tidak sempurna. Ruwat dijalankan sehingga muncul hasrat untuk selalu bertobat, pasrah, ingat dan waspada. Ada beragam bentuk kegiatan ruwatan seperti selametan, merti desa, sedekah bumi, sedekah gunung, bancakan, ider bumi, hingga menggelar pertunjukan wayang semalam suntuk.

Di kompleks Candi Sukuh yang terletak di lereng Barat Gunung Lawu juga kerap diadakan ritual untuk ruwatan, terutama saat bulan sura. Kegiatan tersebut diikuti para tokoh budaya, pametri budaya serta masyarakat sekitar lereng Gunung Lawu.

Candi Sukuh memang secara khusus dikenal sebagai tempat suci untuk meruwat diri. Ini tergambar dari tanda serta relief-relief yang ada di sana. Pertama, tanda atau relief pada Paduraksa atau bangunan gapura di muka kompleks Candi Sukuh. Secara arsitektur, gapura ini terlihat seperti pylon, gapura masuk piramida di Mesir.

Majapahit 1478
Relief yang menggambarkan sucinya sebuah ikatan perkawinan

Di lantainya, terdapat relief lingga dan yoni yang dikelilingi relief rantai melingkar. Lingga merupakan simbol paling sederhana dan kuno dari Siva atau Dewa Siwa. Sementara yoni merupakan simbol sang istri, Parwati. Keduanya menandakan kesuburan. Relief sengaja dipahat di lantai gapura masuk agar siapa saja yang melangkahi relief terkena suwuk, atau segala kotoran terutama pada hati manusia bisa terlepas. Fungsinya adalah untuk meruwat siapa saja yang memasuki kompleks candi tersebut.

Kedua, lima fragmen atau potongan batu berukuran sedang yang berada di pelataran candi induk. Kelima fragmen batu ini melukiskan cerita Sudamala atau Sadewa, salah satu dari ksatria Pandawa.
Diceritakan, Sudamala berhasil meruwat Bathari Durga yang mendapat kutukan dari Bathara Guru karena perselingkuhannya. Bathari Durga yang sebelumnya merupakan sosok raksasa betina, kemudian kembali semula menjadi sosok bidadari khayangan. Bernama Bethari Uma Sudamala, yakni dia yang telah berhasil lepas dari kutukan atau telah berhasil diruwat.

Majapahit 1478
Relief Sadewo yang telah berhasil meruwat Bethari Durga

Ketiga, sebuah monumen yang tidak terlalu tinggi, ramping, dengan empat sisi (obelisk). Monumen ini menyiratkan cerita Garudeya. Konon, Garuda memiliki ibu bernama Winata yang menjadi budak akibat kalah bertaruh dengan Dewi Kadru. Dewi Kadru berlaku curang hingga akhirnya membuat Dewi Winata harus menjadi pengasuh anak-anaknya. Merasa memiliki utang budi, dan belas kasih, Garuda hendak membebaskan ibunya dari perbudakan. Beragam upaya Garuda lakukan untuk mendapatkan tirta amerta (air kehidupan) agar bisa dibarter dengan ibu yang dikasihinya. Melihat kesungguhan Garuda, Dewa Wisnu pun memberikannya. Dewi Winata pun diruwat, dan bebas dari perbudakan.

Majapahit 1478
Relief Garuda yang telah berhasil menyelamatkan ibunya

Secara umum, Candi Sukuh termasuk candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang berusia muda. Candi yang berdiri di atas ngarai ini juga sering disebut sebagai "the last temple" karena dibangun saat Kerajaan Majapahit mulai runtuh. Bentuk bangunan candi dibuat dengan konsep punden berundak atau teras bertingkat. Ini memang tidak seperti konsep bangunan candi Majapahit pada umumnya. Sementara itu, jika kita mengenal konsep bangunan candi Majapahit yang rapi, penataan bangunan yang seimbang baik di sisi kiri maupun kanan, tidak demikian dengan kompleks candi di Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini. Kesan yang tampil sangat sederhana bahkan cenderung acak. Ada beberapa argumen seperti, jika kompleks Candi Sukuh dibangun oleh masyarakat desa yang bukan dari kalangan Keraton Majapahit.

Argumen lainnya, di masa itu situasi Kerajaan Majapahit mulai runtuh. Sang Prabu Brawijaya V bersama pengikutnya berada dalam situasi pelarian ke Gunung Lawu. Dia menghindari kejaran pasukan Demak yang dipimpin oleh putranya sendiri yang bernama Raden Patah. Dia tidak menginginkan adanya konflik akibat perbedaan keyakinan sang anak yang memeluk agama Islam waktu itu.

Akankah Majapahit dapat dipertahankan? Yang pasti budaya Jawa harus tetap hidup dalam sanubari masyarakat Jawa. Setelah melakukan meditasi, Prabu Brawijaya V beserta Sabdopalon, pengawal yang setia meninggalkan keraton dan menuju puncak Gunung Lawu. Di sanalah konon, dia mencapai moksanya.

Demikianlah uraian sederhana tentang Candi Sukuh sebagai media suci untuk meruwat diri. Semoga dapat membuka wawasan berpikir yang baru.


0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer