Breaking News
Loading...

Perang Bubat sebuah Pembohongan Sejarah (bagian pertama)

Majapahit 1478MAJAPAHIT 1478. Perang Bubat ini sulit dicari referensinya dalam bentuk prasasti (sebagai sumber sejarah yang sahih) dari jaman kerajaan Majapahit, bahkan hingga saat ini para peneliti maupun arkeolog belum pernah sama sekali menemukan prasasti tentang Perang Bubat ini. Alih-alih yang ditemukan sebagai bahan referensi hanyalah berupa dua buah kitab (yang temasuk muda usianya) yaitu Kitab Pararaton dan Kidung Sunda atau Sundayana. Kedua kitab ini dituliskan ratusan tahun setelah kerajaan Majapahit runtuh sehingga validitas datanya amat sangat diragukan kebenarannya. Lebih jauh lagi kedua Kitab ini diketemukan dan diterjemahkan untuk pertama kalinya pada masa penjajahan kolonial Belanda. Baik Kitab Pararaton maupun Kidung Sunda (Sundayana) ini pada sebagian isinya banyak bertentangan dengan prasasti-prasasti di era kerajaan Majapahit yang telah diketemukan dan berhasil diterjemahkan.

Hingga saat ini belum pernah diketemukan prasasti yang memuat tentang kemenangan kerajaan Majapahit atas kerajaan Sunda (dalam perang Bubat) sebagimana yang diuraikan dalam kedua kitab tersebut (baik Kitab Pararaton maupun Kidung Sunda). Kitab Negarakretagama pun dalam ini tidak pernah mengulas peristiwa perang Bubat tersebut, padahal kitab ini ditulis pada masa pemerintahan raja Hayam Wuruk yang salah satunya menjadi obyek dalam kisah perang Bubat tersebut. Kitab Negarakretagama ini ditulis oleh Mpu Prapanca dan selesai ditulis pada tahun 1365 M, jadi kerajaan Majapahit masih berada di era keemasannya. Jadi merupakan suatu hal yang mustahil bilamana Prapanca dalam hal ini tidak mengetahui terjadinya peristiwa perang Bubat tersebut dan kemudian menuliskan peristiwa tersebut di dalam bukunya.

Hal penting yang perlu diungkap dalam hal ini adalah :
  1. Siapakah penulis Kitab Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) tersebut ?
  2. Kapan mulai menulis dan menyelesaikannya ?
  3. Bagaimanakah kredibilitas penulisnya dan sejauh manakah pengetahuannya tentang sejarah ?
  4. Apa motivasi penulisan kedua Kitab tersebut ?
Ke empat pertanyaan di atas menjadi logis untuk diajukan demi keabsahan suatu naskah atau tulisan, terlebih lagi yang berkaitan dengan naskah sejarah yang harus ditulis secara obyektif. Di sisi lain kebanyakan naskah-naskah kuno telah diketahui siapa pengarang atau penulisnya, semacam kitab Negarakretagama (Desa Warnana) yang jelas-jelas ditulis oleh Mpu Prapanca bertarikh tahun 1365 M, kakawin Arjunawiwaha (yang menceritakan tentang masa pemerintahan Prabu Airlangga) ditulis oleh Mpu Kanwa dengan tarikh 1030 M, Babad Tanah Jawa yang pertama ditulis oleh Carik Braja atas perintah Siunan Pakubuwono III tahun 1788 M, Babad Tanah Jawa yang kedua ditulis oleh Pangeran Adilangu II dengan naskah tertua bertarikh 1722 M dan lain sebagainya.
    Hingga saat ini penulis belum atau tidak pernah menemukan siapakah yang menulis Kitab Pararaton dan Kidung Sunda (Sundayana) tersebut. Penulis dalam hal ini hanya menemukan siapa-siapa yang pertama kali menterjemahkan sekaligus mempublikasikan kedua kitab termaksud. Semuanya adalah para ahli dan atau sejarawan kolonial (Belanda). Dan yang lebih mengherankan lagi, hingga sekarang masih sulit untuk ditemukan naskah asli dari kedua kitab tersebut, yang ada hanyalah berupa terjemahan-terjemahan saja, yang bisa jadi terjemahan tersebut telah penuh dengan rekayasa-rekayasa yang bersifat mengadu domba (devide et impera) sebagai politik praktis di era penjajahan kolonial (Belanda) dahulu.

    Dengan tidak diketemukan siapa penulis aslinya, maka sulit untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang berkaitan dengan kapan penulisannya, bagaimana kredibilitas penulisnya dan apa motivasi penulisannya. Hal ini membawa suatu kesimpulan bahwa kedua kitab tersebut baik Kitab Pararaton maupun Kidung Sunda (Sundayana) jelas-jelas tidak dapat dipergunakan untuk melukiskan suatu peristiwa sejarah yang terjadi di negeri ini, khususnya yang terjadi di tanah Jawa. Dengan demikian kedua kitab tersebut sangat lemah kedudukannya sebagai suatu sumber sejarah yang valid.


    Bersambung ke BAGIAN KEDUA.

    10 komentar:

    1. Referensi sejarah tentang peristiwa perang Bubat (Kidung Sunda dan Pararaton) sangat lemah kedudukannya untuk dipakai sebagai sumber sejarah yang valid. Kedua kitab tersebut dituliskan pada masa ratusan tahun setelah kemunduran kerajaan Majapahit, oleh karenanya kemungkinan besar telah direkayasa untuk mendiskreditkan kebesaran kerajaan Majapahit.

      BalasHapus
      Balasan
      1. Kalo Menurut saya ini hanya tipu muslihat belanda untuk mempermudah penguasaan pulau jawa,, ketika jawa dan sunda di benturkan,,,, karena ku yakin sejarah yang kita pahami sekarang ada yang hanya di sejarahkan dari ilmuwan barat, apakah kalo mereka pelintir kita semua juga faham?? saya yakin mesti ada yang tidak kita ketahui bahwa sejarah kita telah di pelintir besar besaran oleh pemerintah kolonial untuk memepermudah penguasaan nusantara...........

        Hapus
      2. Saya Meyakini.. wong negara kita kita belum ada 100 tahun berdiri, lebih lama belanda dalam menguasai negeri ini.. pasti sejarah2 leluhur banyak yang di pelintir dengan argumentasi mereka,,,, hal ini untuk mempermudah penguasaan mereka atas tanah nusantara... terbukti banyak bukti2 sejarah kita yang sekarang berada di museum2 mereka.........

        Hapus
      3. Sunda dan Jawa adalah bersaudara, Konon raja-raja Padjadjaran, Pakuan, Galuh dan sebagainya bersaudara dan berkerabat dengan raja-raja jawa bagian tengah. Hurup Jawa (Sunda) Kuna (Ha na ca ra ka) sebenarnya sama dengan Ho no co ro ko yang banyak difahami dan dituturkan oleh orang Jawa Tengah bagian tengah. Orang Jawa Tengah bagian barat lebih dekat secara budaya dengan orang Sunda... Berdasaarkan sejarah, kebudayaan dimulai dari bagian barat bukan? Tarumanegara selama ini dikenal sebagai kerajaan Hindu tertua di Jawa. Selain itu, penemuan Gunung Padang memperkuat dugaan bahwa kebudayaan di Jawa dimulai dari bagian barat. Setujua bahwa sejarah ini ditulis sebagai alat pemecah belah...

        Hapus
    2. Balasan
      1. Tanpa Masa Lalu tidak akan pernah ada Masa Kini dan Masa Yang Akan Datang

        Hapus
    3. Perang Bubat adalah bentuk persaingan dua kerajaan besar, Majapahit dan Pajajaran

      BalasHapus
      Balasan
      1. Maaf, Pajajaran belum pernah menjadi kerajaan sebesar Majapahit. Rahayu.

        Hapus
    4. Sebagai orang sunda, saya pun setuju dengan pendapat penulis di atas bahwa semua itu adalah politik adu domba belanda (devide et impera). Namun bagi beberapa sesepuh di daerah saya sangat yakin dengan apa yang dijelaskan dengan dua kitab itu dan tak jarang mereka menceritakan kepada anak2nya termasuk saya bahwa kejadian perang bubat itu memang benar2 telah terjadi

      BalasHapus
      Balasan
      1. Baiknya, sebagai bangsa yang besar kita jangan mudah di adu-domba oleh siapapun, termasuk oleh bangsa sendiri .....

        Hapus

    Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

     
    Toggle Footer