Breaking News
Loading...

Perang Bubat sebuah Pembohongan Sejarah (bagian kedua)

MAJAPAHIT 1478. Sebagai kelanjutan dari bagian yang pertama, maka dalam artikel ini akan sedikit diuraikan tentang beberapa hal penting yang berkaitan dengan perang Bubat, kidung Sunda atau Sudayana dan kitab Pararaton berikut dengan beberapa analisanya.

Perang Bubat.
Perang Bubat adalah perang yang diceritakan pernah terjadi pada masa pemerintahan raja Majapahit ke empat (Raja Hayam Wuruk) dengan mahapatihnya Gajah Mada. Perang ini melibatkan sejumlah besar pasukan kerajaan Majapahit pimpinan Mahapatih Gajah Mada melawan sekelompok kecil pasukan kerajaan Sunda pimpinan Prabu Maharaja Linggabuana, di desa pelabuhan Bubat, Jawa Timur pada abad ke-14 pada sekitar tahun 1357 M.

Majapahit 1478

Pertempuran yang sangat tidak seimbang tersebut dikisahkan dapat dimenangkan secara mutlak oleh pihak Majapahit. Pasukan kerajaan Sunda dibantai habis termasuk komandannya yang juga raja kerajaan Sunda, Prabu Maharaja Linggabuana. Dan tidak cuma itu, permaisuri dan putri raja Sunda bernama Dyah Pitaloka Citraresmi – yang sedianya akan dinikahkan dengan raja Hayam Wuruk – ikut tewas dengan cara bunuh diri setelah meratapi mayat ayahnya.

Diceritakan bahwa timbulnya perang ini akibat kesalahpahaman mahapatih Gajah Mada saat melihat raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit Sunda. Gajah Mada menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di pelabuhan Bubat sebagai bentuk penyerahan diri kerajaan Sunda kepada Majapahit. Hal ini menimbulkan perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada, dan memuncak hingga terjadi perang terbuka.

Sumber tertua yang bisa dijadikan rujukan mengenai adanya perang Bubat ini ternyata hanya dua karya sastra dalam bahasa Jawa Pertengahan berbentuk tembang (syair) berjudul : 

Kidung Sunda, ditemukan oleh pakar sejarah Belanda bernama Prof. Dr. C.C. Berg pada awal tahun 1920 an, beberapa versi Kidung Sunda, diantaranya Kidung Sundayana, yang merupakan versi sederhana dari versi aslinya. Sarjana belanda itu kemudian menuliskan penemuannya tersebut dalam kedua bukunya, yaitu :

C.C. Berg, 1927, ‘Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen’. BKI 83: 1 – 161.
C.C. Berg, 1928, Inleiding tot de studie van het Oud-Javaansch (Kidung Sundāyana). Soerakarta: De Bliksem.

Kitab Pararaton, yang diterjemahkan oleh JLA Brandes pada tahun 1897 M dalam sebuah bukunya yang berjudul  Pararaton (Ken Arok) of het boek der Koningen van Tumapěl en van Majapahit. Uitgegeven en toegelicht. Batavia: Albrecht; 's Hage: Nijhoff. VBG 49.1.


Tentang Kidung Sunda.

Kidung Sunda adalah sebuah tulisan/naskah dalam bahasa Jawa pertengahan yang berbentuk syair (tembang), yang kemungkinan berasal dari Bali. Dalam kidung ini diceritakan tentang kisah pencarian seorang permaisuri Hayam Wuruk dari Majapahit, dan tragedi perang bubat yang memilukan. Diceritakan dalam beberapa pupuh, sebagai berikut :

Pupuh I.
Hayam Wuruk, raja Majapahit ingin mencari seorang permaisuri untuk dinikahi. Maka beliau mengirim utusan-utusan ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencarikan seorang putri yang sesuai. Mereka membawa lukisan-lukisan kembali, namun tak ada yang menarik hatinya. Maka prabu Hayam Wuruk mendengar bahwa putri Sunda cantik dan beliau mengirim seorang juru lukis ke sana. Setelah ia kembali maka diserahkan lukisannya. Saat itu kebetulan dua orang paman prabu Hayam Wuruk, raja Kahuripan dan raja Daha berada di sana hendak menyatakan rasa keprihatinan mereka bahwa keponakan mereka belum menikah.

Maka Sri Baginda Hayam Wuruk tertarik dengan lukisan putri Sunda. Kemudian prabu Hayam Wuruk menyuruh Madhu, seorang mantri ke tanah Sunda untuk melamarnya. Madhu tiba di tanah Sunda setelah berlayar selama enam hari kemudian menghadap raja Sunda. Sang raja senang, putrinya dipilih raja Majapahit yang ternama tersebut. Tetapi putri Sunda sendiri tidak banyak berkomentar.

Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak dari Sunda disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil.

Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)

Sementara di Majapahit sendiri mereka sibuk mempersiapkan kedatangan para tamu. Maka sepuluh hari kemudian kepala desa Bubat datang melapor bahwa rombongan orang Sunda telah datang. Prabu Hayam Wuruk beserta kedua pamannya siap menyongsong mereka. Tetapi patih Gajah Mada tidak setuju. Ia berkata bahwa tidaklah seyogyanya seorang maharaja Majapahit menyongsong Raja Sunda yang seharusnya menjadi raja bawahan. Siapa tahu dia seorang musuh yang menyamar.

Maka prabu Hayam Wuruk tidak jadi pergi ke Bubat menuruti saran patih Gajah Mada. Para abdi dalem keraton dan para pejabat lainnya, terperanjat mendengar hal ini, namun mereka tidak berani melawan.

Sedangkan di Bubat sendiri, mereka sudah mendengar kabar burung tentang perkembangan terkini di Majapahit. Maka Raja Sunda pun mengirimkan utusannya, patih Anepakěn, untuk pergi ke Majapahit. Ia disertai tiga pejabat lainnya dan 300 serdadu. Mereka langsung datang ke rumah Patih Gajah Mada. Di sana beliau menyatakan bahwa Raja Sunda akan bertolak pulang dan mengira Prabu Hayam Wuruk ingkar janji. Mereka bertengkar hebat karena Gajah Mada menginginkan supaya orang-orang Sunda bersikap seperti layaknya vazal-vazal Nusantara Majapahit. Hampir saja terjadi pertempuran di kepatihan kalau tidak ditengahi oleh Smaranata, seorang pandita kerajaan. 

Maka berpulanglah utusan Raja Sunda setelah diberi tahu bahwa keputusan terakhir Raja Sunda akan disampaikan dalam tempo dua hari. Sementara Raja Sunda setelah mendengar kabar ini tidak bersedia menjadi negara bawahan Majapahit. Maka beliau berkata memberi tahukan keputusannya untuk gugur seperti seorang ksatria. Demi membela kehormatan, lebih baik gugur daripada hidup tetapi dihina orang Majapahit. Para bawahannya berseru mereka akan mengikutinya dan membelanya.

Kemudian Raja Sunda menemui istri dan anaknya dan menyatakan niatnya dan menyuruh mereka pulang. Tetapi mereka menolak dan bersikeras ingin tetap menemani sang raja.

Pupuh II (Durma).
Maka semua sudah siap siaga. Utusan dikirim ke perkemahan orang Sunda dengan membawa surat yang berisikan syarat-syarat Majapahit. Orang Sunda pun menolaknya dengan marah dan pertempuran tidak dapat dihindarkan.

Tentara Majapahit terdiri dari prajurit-prajurit biasa di depan, kemudian para pejabat keraton, Gajah Mada dan akhirnya Prabu Hayam Wuruk dan kedua pamannya.

Pertempuran dahsyat berkecamuk, pasukan Majapahit banyak yang gugur. Tetapi karena kalah jumlahnya, akhirnya hampir semua orang Sunda dibantai habisan-habisan oleh orang Majapahit. Anepakěn dikalahkan oleh Gajah Mada sedangkan Raja Sunda ditewaskan oleh besannya sendiri, Raja Kahuripan dan Daha. Pitar adalah satu-satunya perwira Sunda yang masih hidup karena pura-pura mati di antara mayat-mayat serdadu Sunda. Kemudian ia lolos dan melaporkan keadaan kepada Ratu dan Putri Sunda. Mereka bersedih hati dan kemudian sesuai ajaran Hindu mereka melakukan belapati (bunuh diri). Semua istri para perwira Sunda pergi ke medan perang dan melakukan bunuh diri massal di atas jenazah-jenazah suami mereka.

Pupuh III (Sinom).
Prabu Hayam Wuruk merasa cemas setelah menyaksikan peperangan ini. Ia kemudian menuju ke pesanggaran Putri Sunda. Tetapi Putri Sunda sudah tewas. Maka Prabu Hayam Wuruk pun meratapinya ingin dipersatukan dengan wanita idamannya ini.

Setelah itu, upacara untuk menyembahyangkan dan mendoakan para arwah dilaksanakan. Tidak selang lama, maka mangkatlah pula Prabu Hayam Wuruk yang merana.

Setelah beliau diperabukan dan semua upacara keagamaan selesai, maka berundinglah kedua pamannya. Mereka menyalahkan Gajah Mada atas malapetaka ini. Maka mereka ingin menangkapnya dan membunuhnya. Kemudian bergegaslah mereka datang ke kepatihan. Saat itu patih Gajah Mada sadar bahwa waktunya telah tiba. Maka beliau mengenakan segala upakara (perlengkapan) upacara dan melakukan yoga samadi. Setelah itu beliau menghilang (moksa) tak terlihat menuju ketiadaan (niskala).

Maka raja Kahuripan dan raja Daha, yang mirip "Siwa dan Buddha" berpulang ke negara mereka karena Majapahit mengingatkan mereka akan peristiwa memilukan yang terjadi.

Analisis cerita dalam Kidung Sunda.
Berdasarkan uraian tiga pupuh di atas, penulis mencoba melakukan analisa sebagai berikut :
  • Dalam ketiga pupuh di atas tidak disebutkan secara jelas siapakah nama Raja Sunda, Ratu Sunda dan Putri Sunda yang datang ke Majapahit tersebut. Hal ini menyebabkan para ahli sejarah membuat suatu analogi dengan mempergunakan sumber-sumber sejarah yang lain. Analogi yang dilakukan oleh para ahli sejarah berdasarkan sumber-sumber lain tersebut bisa saja keliru atau tidak tepat.
  • Dalam Kidung Sunda ini tidak disebutkan siapa penulis aslinya dan dimana tempat ia menuliskannya, di Jawa atau di Bali ?
  • Tentang kematian Mahapatih Gajah Mada, uraian dalam Kidung Sunda ini bertentangan dengan uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama khususnya dalam Pupuh LXXI yang menyebutkan "....tahun rasa (1286 Saka atau 1364 M) beliau mangkat, Baginda (Hayam Wuruk) gundah, terharu, bahkan putus asa...". Didalam pupuh sebelumnya disebutkan bahwa sebab-sebab meninggalnya Mahapatih Gajah Mada adalah karena sakit. Uraian Pupuh LXX sebagai berikut "....Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering...". Jadi kesimpulannya adalah : Mahapatih Gajah Mada meninggal karena sakit dan bukan karena dikejar-kejar oleh kedua orang paman Raja Hayam Wuruk setelah perang Bubat.
  • Dalam Kidung Sunda tersebut diceritakan bahwa Prabu Hayam Wuruk meninggal lebih dahulu dibandingkan Mahapatih Gajah Mada, padahal menurut uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama yang meninggal lebih dahulu adalah Mahapatih Gajah Mada, hal ini dapat kita cermati dalam uraian Pupuh LXXI yang menyebutkan ".... Baginda segera bermusyawarah dengan kedua rama serta Ibunda .....". Permusyawarahan ini dilakukan Prabu Hayam Wuruk untuk mencari pengganti Mahapatih Gajah Mada yang telah meninggal.
  • Dengan demikian Kidung Sunda ini harusnya dianggap hanya sebagai karya sastra biasa (karena tidak menyebutkan secara jelas pihak-pihak dari kerajaan Sunda), dan bukan sebuah kronik sejarah yang akurat.
Tambahan :
Satu hal yang paling menarik  ialah bahwa dalam teks dibedakan pengertian antara Nusantara dan tanah Sunda. Orang-orang Sunda dianggap bukan orang Nusantara, kecuali oleh patih Gajah Mada. Sedangkan yang disebut sebagai orang-orang Nusantara adalah: orang Palembang, orang Tumasik (Singapura), Madura, Bali, Koci (?), Wandan (Banda, Maluku Tengah), Tanjungpura (Kabupaten Ketapang) dan Sawakung (Pulau Sebuku?) (contoh bait 1. 54 b.) . Hal ini juga sesuai dengan kakawin Nagarakretagama di mana tanah Sunda tak disebut sebagai wilayah Majapahit yang harus membayar upeti. Dengan demikian jelas bahwa tanah Sunda bukan negara atau tanah taklukan Majapahit.

Kenyataan tersebut diperkuat oleh uraian yang terdapat dalam Kitab Negarakretagama sebagai berikut :

  1. Berkaitan dengan penyebaran agama Budha diuraikan dalam Pupuh XVI sebagai berikut : "... Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata (ajaran Budha), dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata (Hayam Wuruk), dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Budha .....". Tanah sebelah Barat pulau Jawa identik dengan kekuasaan Kerajaan Sunda.
  2. Berkaitan dengan negara-negara asing yang memiliki hubungan dengan kerajaan Majapahit, diuraiakan dalam Pupuh XV sebagai berikut : ".......Yawana ialah negara sahabat ....". Identifikasi Yawana adalah Kerajaan Sunda (sepanjang tidak ada bukti-bukti empiris lainnya).


Kitab Pararaton.
Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Apakah ini naskah aslinya ? Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton yang asli (inilah fakta yang mencurigakan).

Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292). Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja pada tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.

Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok". Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskah adalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, dimana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, maka dalam naskah Pararaton ini tidak diketahui pula siapa penulis aslinya sehingga sulit diketahui tentang kredibilitas penulisnya serta apa motivasi penulisan naskah ini. Naskah Pararaton ini hanya dikenal berdasarkan terjemahan yang ditulis oleh JLA Brandes dalam bukunya tersebut. Bisa jadi kitab Pararaton ini adalah buatan Brandes sendiri karena sampai saat ini kita semua sebagai pewaris yang sah (seandainya ada naskah yang asli) belum pernah tahu seperti apa bentuk naskahnya yang asli.  

Analisis Kitab Pararaton.
Di dalam berbagai prasasti-prasasti peninggalan kerajaan Singhasari tidak pernah ditemukan nama Ken Arok sebagai pendiri kerajaan Tumapel yang pada akhirnya berubah nama menjadi Singhasari, kenyataan inilah yang membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa Kitab Pararaton (khusus yang berkaitan dengan kerajaan Singhasari serta beberapa bagian lainnya) bukanlah merupakan suatu sumber sejarah yang sahih atau valid karena isinya banyak bertentangan dengan prasasti-prasasti yang ada termasuk juga bertentangan dengan Kitab Negarakretagama.


Bersambung ............ ke bagian berikutnya.

17 komentar:

  1. Sebagai bangsa yang merdeka, marilah kita semua bersatu padu menyusun sejarah bangsa kita sendiri, jangan mudah percaya dengan sejarah yang disusun oleh bangsa lain. Salam persatuan Indonesia.

    BalasHapus
  2. saya percaya bahwa ini adalah ceritera asli dan saya sangat terpukul dengan kejadian masa lalusebagai bangsa yang tahu sejara maka kita sebaiknya belajar dari sejarah

    BalasHapus
  3. saya percaya akan keberadaan dan kebenaran dari sejarah ini

    BalasHapus
  4. terima kasi atas tulisan ini

    BalasHapus
  5. wah klw berdasarkan prasasti aj sejarah kita ga bakalan lengkap, banyak prasasti2 penting yg dihancurkan saat masa penjajahan kompeni belum lagi ratusan, ribuan munkin juga jutaan artefak sejarah yg di boyong kenegeri kompeni, biar orang2 kompeni bisa menulis ulang sejarah kita yg didasari penelitian bangsa mereka, yg mungkin memasukan unsur2 kepentingan mereka atas bangsa ini. dan klw masalah valid tidaknya tidung dan kitab2 kuno karena kurang ditail penulisanya zaman itu mungkin belum trend penulisan ilmiah yg trend waktu itu adalah penulisan sastra yg jadi sebuah legenda yg lebih banyak diminati di masa itu. jadi masalah benar tidaknya itu masih menjadi sebuah misteri kang mas!

    BalasHapus
  6. Dari dulu saya selalu bertanya terjadi perang Bubat dan saya sangat puas dengan jawaban ini. Pembohongan Sejarah......masa iya sih seorang Raja Agung dari kerajaan besar dan berdaulat menyerahkan putrinya dengan cara seperti itu......

    BalasHapus
  7. pararaton memang lebih banyak menceritakan mitos,

    BalasHapus
  8. Tulisan yg menarik. Jangan2 perang bubat itu hanya karangan pmrnth kolonial agar timbul sentimen anti jawa di kalangan orang sunda ...(dan pada kenyatasnnya itu berhasil)

    BalasHapus
  9. terim kasih...saya jadi tahu Bubat itu i Jawa Timur dikira di kota Bandung...haduuuuh kuliah 7 thun di Unpad baru tahu pelabuhan Bubat

    BalasHapus
  10. Saya kagum dengan sikap nenek moyang saya karena memiliki jiwa ksatria. Makanya sifat orang Sunda pada umumnya tahu diri.

    BalasHapus
  11. Jadi nggak usah percaya Pararaton dan babad yang lain yach .... Anggap aja semua babad dan prasasti2 itu bullshit, cuma bikinan kolonial ........ Wallah .... @- )

    BalasHapus
  12. Sepanjang ada bukti-bukti sejarahnya, maka bisa dipergunakan sebagai bahan referensi ....

    BalasHapus
  13. Tertarik dg pemikiran bahwa Pararaton adalah karya seni biasa..

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer