Breaking News
Loading...

KITAB NEGARAKERTAGAMA (6)

Pupuh XVI
  1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara, dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar untung ; seyogyanya jika mengemban perintah ke mana juga menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.
  2. Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata, dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata, dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.
  3. Tanah sebelah Timur Jawa terutama Gurun, Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, bahkan menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.
  4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke Timur ke Barat, dimana mereka sempat melakukan persajian seperti perintah Sri Nata ; resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.
  5. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah, dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa ; tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan pimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi berjasa.
Pupuh XVII
  1. Telah tegak kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara, di Sripalatikta tempat beliau bersemayam menggerakkan roda dunia, tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas girang dan lega ; wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.
  2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung wilayah Janggala Kediri ;raja agung dan raja utama ; lepas dari segala duka, mengenyam hidup penuh segala kenikmatan, terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.
  3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda ; ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura ; semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan ; gununga dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.
  4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling, desa Sima di sebelah Selatan Jalagiri, di sebelah Timur Pura, ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan, girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima.
  5. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, di Daha terutama di Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, jika sampai di Jenggala singgah di Surabaya terus menuju Buwun.
  6. Tahun Aksatisurya (1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring ; tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra ; tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman.
  7. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah ; Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, naik kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
  8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja ; tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin ; dipilih Sri Baginda sebagai pembesar keBudaan mengganti sang ayah ; semua pendeta Buda umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.
  9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata berdamping, tak lain maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau kemana juga ; namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah karya kakawin ; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
  10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, sebelah Timur Tebu hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci ; Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan ; Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
  11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara menginap di Kapulungan ; selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering tidak jauh dari pantai, yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya ; tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.
Silahkan melanjutkan ke  bagian ke tujuh

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer