Breaking News
Loading...

MAJAPAHIT, GIRINDRAWARDHANA BUKAN RADEN PATAH

Majapahit 1478Sejarah Majapahit dibelak-belokkan, sejarah Majapahit dipelintir ke sana ke mari, sejarah Majapahit sengaja dikaburkan.

Adalah sebuah buku yang berjudul "Meluruskan Sejarah Majapahit" yang ditulis oleh Irawan Djoko Nugroho, salah satunya menyebutkan bahwa : "Raden Patah diidentifikasi sebagai orang yang sama dengan Girindrawardhana". Tulisan ini akan membahas  pernyataan tersebut yang sangat diragukan kebenarannya. Baiklah kita tinjau tulisan beberapa prasasti Majapahit berikut ini  :

Prasasti Padukuhan Duku bertuliskan tentang sang Prabu Girindrawardhana dan juga nama kecilnya,yaitu; Dyah Ranawijaya mengesahkan pemberian tanah perdikan Terialokiapuri di desa Petak, kepada Sri Brahmanaraja Ganggadara oleh dua orang Prabu terdahulu (sebelum masa Girindrawardhana berkuasa). Tidak disebutkan nama kedua raja tersebut.

Maksud dari pengesahan/penguatan dari pemberian tanah tersebut, karena bantuan yang telah di berikan kepada Prabu Girindrawardhana saat  menyerang Majapahit (Bhre Kertabhumi). Bantuan pada waktu peperangan melawan Majapahit ini berarti sekali dalam pemberian tanah perdikan tersebut, sehingga disertai pemberian lencana-negara yang berbentuk; dua telapak kaki, payung, tongkat di belit ular, kembang, kendi dan keris.

Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda menyebutkan bahwa raja-raja Demak menyatakan dirinya sebagai keturunan Prabu Brawijaya, raja Majapahit. Bahkan di dalam Purwaka Caruban Nagari disebutkan dengan jelas bahwa Raden Patah, pendiri dan sultan pertama Demak, adalah anak prabu Brawijaya Kertabhumi (" ...... tumuli hana pwa ya sang Patah ika anak ira Sang Prabhu Brawijaya Kretabhumi kang rumuhun mastri lawan putri Cina .....", Atja, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari, 1972, hal. 84 ; lihat pula : P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, 1972, hal. 19). Kesimpulannya adalah bahwa Raden Patah adalah putera dari raja Majapahit Bhre Kertabhumi.

Dari prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya pada tahun 1486 M, telah diketahui adanya upacara sraddha untuk memperingati dua belas tahun meninggalnya Paduka Bhattara ring Dahanapura yang diidentifikasikan sebagai Bhre Pandan Salas Dyah Suraprabhawa Sri Singhawikramawardhana (Lihat : Martha A. Muusses, "Singhawikramawarddhana", FBG, II, 1929, hal 207-214 ; P.J. Zoetmulder, "Djaman Empu Tanakung", Laporan KIPN-II, VI seksi D, 1965, hal. 207). Dengan demikian Girindrawardhana adalah putera dari Bhre Pandan Salas.

Adapun Bhre Pandan Salas ini pada tahun 1468 M tersingkir dari kedaton Majapahit akibat serangan atau perebutan kekuasaan dari Bhre Kertabhumi. Akhirnya perebutan kekuasaan ini dibalas oleh Dyah Ranawijaya (putera dari Bhre Pandan Salas) pada tahun 1478 M, dan mengakibatkan Bhre Kertabhumi gugur di kedaton.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwasanya Raden Patah dan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) adalah dua orang yang berbeda, Raden Patah adalah putera Bhre Kertabhumi, sedangkan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) adalah putera dari Bhre Pandan Salas. Fakta lain lagi Raden Patah mendirikan kerajaan Islam Demak, sedangkan Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) melanjutkan pemerintahan ayahnya sebagai raja Majapahit.

Penulis : J.B. Tjondro Purnomo ,SH
Bersambung .......

6 komentar:

  1. kl sy setuju: Girindrawardana bukan Raden Fatah Demak. Beliau putra mahkota Majapahit yg sah, krn beliau putra dr Bhre Pndansalas (Brawijaya 4) yg dikudeta oleh adiknya: Bre Kertabumi yg lalu jadikan dirinya Brawijaya V. Girindrawardana adl Raja Kediri, dan beliau yg menyerang dan mendapatkan kembali haknya sbg Raja Majaphit. Kebetulan sy msh trah dr eyang Bre Pandansalas. Salaam

    BalasHapus
  2. Maklum aja gan, Irawan Djoko N khan bukan ahli sejarah ...., dia hanya 'penjual buku' .... jadi selalu bikin sensasi agar bukunya laris.... Salam.

    BalasHapus
  3. Kalo emang RADEN PATAH adalah pewaris sah majapahit, seharusnya nama nya bukan RADEN PATAH tapi namanya PANGERAN PATAH.
    Ga, ane itu trah RADEN PATAH di Jepara, lo.. Gak suka ayo perang po.....
    Wkwkwkwk...
    Minal aidin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada jaman kerajaan Majapahit tidak ada istilah Raden atau Pangeran, gelar kebangsawanan pada waktu itu adalah Bhre atau Bhra ..., istilah Raden atau Pangeran adalah istilah yang dipergunakan dalam Babad Tanah Jawa yang ditulis sekitar 400 tahun setelah Majapahit runtuh ....

      Hapus
  4. Thanks ya gan blog ini membantu saya sekali .................



    bisnistiket.co.id

    BalasHapus
  5. Merakit sejarah lewat babad saja memang banyak lemahnya. Merakit lewat prasasti atau catatan kuno juga banyak mata rantai yang bolong. Akhirnya yang mungkin adalah menyusun sejarah lewat gabungan antara babad dan prasasti.Bagi yg setuju majapahit runtuh akibat serangan Demak maupun tidak ternyata juga menggunakan data antara babad dan prasasti. kesimpulannya ? ........

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

 
Toggle Footer