Majapahit Blog MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1) | Majapahit 1478 MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1)
Headlines News :
Home » » MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1)

MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1)

"Meluruskan Sejarah Majapahit" adalah sebuah buku tulisan Irawan Djoko Nugroho, infonya dapat di lihat di sini : http://www.facebook.com/topic.php?uid=78845515468&topic=12527 (facebook) dan di sini : http://catalogue.nla.gov.au/Record/4767070 (katalog buku). Sang penulis mengaku alumnus Universitas Gajah Mada, Jogyakarta jurusan/fakultas Filologi.

Beberapa hal yang tertulis di dalam buku karangan beliau (Meluruskan Sejarah Majapahit) adalah tidak benar alias salah kaprah. Alih-alih 'meluruskan sejarah Majapahit' tetapi pada faktanya malah "Membelokkan Sejarah Majapahit". Artikel atau tulisan ini akan membahas pembelokan-pembelokan tersebut secara bersambung atau berkelanjutan.

Pembelokan pertama disebutkan bahwa Gajah Mada (sebagai mahapatih Majapahit) ternyata ada dua orang, yang pertama hidup pada masa pemerintahan Tribhuwanatunggadewi/Hayam Wuruk dan yang kedua hidup pada masa pemerintahan Brawijaya V. Selanjutnya dikatakan bahwa Gajah Mada yang berhasil mempersatukan Nusantara adalah Gajah Mada yang ke-2, yang hidup pada masa pemerintahan Brawijaya V.
Landasan atau dasar yang dipergunakan memperkuan alibi atau pernyataannya adalah  :
  1. Babad Tanah Jawi
  2. Babad Demak I
  3. Hikayat Hang Tuah
  4. Hikayat Raja-raja Pasai
  5. Prasasti Wijaya Parakrama-Wardhana tahun 1447 M.
Berita-berita tradisi yang berupa babad atau hikayat pada dasarnya merupakan sumber sejarah yang lemah kedudukannya dalam artian tidak dapat dipergunakan sebagai acuan dasar untuk menuliskan sejarah suatu bangsa, apalagi untuk menuliskan sejarah berdirinya atau kelangsungan hidup suatu kerajaan dalam hal ini kerajaan Majapahit. Banyak uraian babad-babad atau hikayat yang bertentangan dengan isi suatu prasasti (yang merupakan sumber otentik).
Baiklah kita tinjau uraian Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam bukunya Sejarah Nasional Indonesia II, terbitan Balai Pustaka tahun 1993, pada halaman 448 disebutkan hal yang demikian :
"Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M). Saat keruntuhan itu disimpulkan dalam candrasengkala sirna-ilang-kertining-bumi (Serat kanda dan Babad ing sengkala -penulis-) dan disebutkan pula bahwa keruntuhannya itu disebabkan karena serangan dari kerajaan Islam Demak. Berdasarkan bukti-bukti sejarah yang sampai kepada kita (penulis buku -penulis-) ternyata bahwa pada saat itu kerajaan Majapahit belum runtuh dan masih berdiri untuk beberapa waktu yang cukup lama lagi. Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1486 M masih menyebut adanya kekuasaan kerajaan Majapahit. Rajanya yang berkuasa pada waktu itu bernama Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawarddhana, bahkan ia disebutkan pula sebagai seorang Sri Paduka Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kadiri Prabhunatha"

Dari uraian tersebut di atas dapatlah kita tarik suatu kesimpulan bahwa sebenarnya berita-berita tradisi (dalam bentuk babad ataupun hikayat) adalah sangat-sangat lemah kedudukannya bilamana akan dipergunakan sebagai sumber untuk  menuliskan suatu sejarah. Sumber utama yang terpenting adalah prasasti-prasasti, baru kemudian catatan perjalanan saksi-saksi sejarah. Selanjutnya berita-berita tradisi hanya bersifat pelengkap.
Dengan demikian sumber-sumber tulisan Irawan Djoko Nugroho (Meluruskan Sejarah Majapahit) yang berbentuk babad dan atau hikayat (Babad Tanah Jawi, Babad Demak I, Hikayat Hang Tuah dan Hikayat Raja-Raja Pasai) sangat-sangat lemah kedudukannya, dalam artian tidak dapat dipergunakan sebagai sumber untuk menuliskan sejarah.

Selanjutnya, bila kita tinjau prasasti Wijaya-Parakrama-Wardhana tahun 1447 M, tidak pernah disebutkan nama Gajah Mada sebagai patih Brawijaya V, yang ada nama adalah Gajah Geger. Nama 'Gajah Geger' ini oleh penulis buku (Irawan Djoko Nugroho) diasumsikan sebagai Gajah Mada berdasarkan pendefinisian kata Geger yang berarti 'hiruk-pikuk'. Demikian juga definisi kata Mada yang berarti 'hiruk-pikuk'. Berdasarkan kesamaan arti kata Geger dan Mada inilah kemudian dia/beliau kemudian menyamakan Gajah Geger dengan Gajah Mada. Hal ini adalah merupakan suatu kesalahan besar sekali lagi saya katakan, SALAH BESAR.

Kata Mada dalam nama Gajah Mada pada dasarnya adalah melukiskan sebuah tempat kelahiran yang bersangkutan, artinya Gajah Mada adalah orang besar yang berasal dari desa Mada. Jadi bukan 'orang besar hiruk pikuk', demikian pula kiranya nama Gajah Geger hendaknya dianalogikan sebagai orang besar yang berasal dari daerah Geger

Kesimpulannya : Kata geger dalam nama Gajah Geger, tidak dapat diartikan sebagai Gajah Mada, sehingga memunculkan asumsi bahwa Gajah Mada ada dua orang. Ini merupakan kesimpulan yang tergesa-gesa dan sangat terkesan mengada-ada yang dalam bahasa Jawanya, utak-atik-gathuk.

Penulis  : J.B. Tjondro Purnomo ,SH

Bersambung ke ............... Girindrawardhana .. dst

Share this article :

Copy Rights : Jerry Wong ~ Majapahit 1478 | Majapahit Blog

Majapahit 1478 Sobat sedang membaca artikel tentang MELURUSKAN SEJARAH MAJAPAHIT ? BOHONG !!!! (1). Oleh Admin Blog, Sobat diperbolehkan mengcopy paste atau menyebar-luaskan artikel ini sepanjang hal tersebut memang berguna, namun jangan lupa untuk meletakkan link dibawah ini sebagai sumbernya

:: Get this widget ! ::

23 komentar:

  1. Waah,,,Sungguh TERLALU Boss...kalo cuma sekedar asumsi tanpa bukti dr Sumber yg jelas..malah menjadi menyesatkan Boss...
    Dan Sejarah itu memang harus Valid dr sumber &bukti yg OTENTIK,,,
    HIDUP MAJAPAHIT!!!

    BalasHapus
  2. Sejarah Majapahit memang harus ditegakkan dari mereka-mereka yang kurang bertanggung-jawab demi generasi penerus bangsa ini.

    BalasHapus
  3. SALAM PERSAHABATAN BOSS!!!
    BANNER ANDA tlah SUKSES TERPASANG SEMPURNA BOSS..
    Coba diCEK

    http://roberto-bagio.blogspot.com/2011/06/award-ayas-lagi.html#more

    TERIMA KASIH BOSS...
    SALAM SUKSES SELALU!!!

    BalasHapus
  4. maaf sebelum nya..
    banyak sekali sejarah kita maaf khususnya jawa yang suda melenceng baik sengaja dan tidak.
    bukan hal mudah untuk meletarikan nya kembali
    tapi top dah buat pemegang trah majapahit semoga bisa lurus lagi sejarah nya
    amien

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas apresiasinya, mari kita pegang tanggung jawab kebesaran bangsa ini selama hayat dikandung badan. Mari kita luruskan kembali segala sesuatu yang telah 'dibuat melenceng'.
      Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi

      Hapus
  5. wah kalo terjadi pembohongan, bisa bahaya nih ntar sob. apa lagi sampai diterbitkan. bis merusak pengetahuan generasi tentang pemahaman kerajaan majapahit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itulah perilaku Irawan Djoko Nugroho, sejarah kerajaan besar semacam Majapahit hanya dipandang dari kacamata dia yang sempit.
      Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.

      Hapus
  6. woww.....ternyata masih banyak saudara sebangsa yg masih ingat dengan JasMerah..apresiasi buat anda...trimakasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bila kita ingin menjadi bangsa yang besar (TIDAK SEPERTI SEKARANG INI) kita wajib mempelajari sejarah bangsa kita kembali. Kita kembangkan nilai-nilai luhur yang telah kita miliki sejak jaman nenek-moyang kita. Jangan kita meniru sejarah bangsa lain, jangan kita hanya membeo. Tunjukkan jati diri bangsa kita yang besar ini.
      Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.

      Hapus
  7. wahwah... ada saja orang yang mau melencengkan fakta sejarah bangsa Indonesia...
    salam blogger!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salah satunya adalah Irawan Djoko Nugroho dalam bukunya 'Meluruskan Sejarah Majapahit' ..... bukan tambah lurus, tapi malah tidak karu-karuan, merusak kenyataan yang ada.
      Rahayu, rahayu, rahayu sagung dumadi.

      Hapus
  8. Perlu dilakukan pelurusan dengan berbagai media ..., bisa juga lewat penerbitan buku ...

    BalasHapus
  9. @ Dildaar Ahmad

    Terima kasih atas tanggapannya, pada intinya pemakaian karya sastra (serat atau babad) sebagai referensi sejarah, membutuhkan suatu pengkajian yang mendalam serta screenning yang ketat.
    Jadi tidak begitu saja dapat dijadikan referensi sejarah.

    BalasHapus
  10. This is an excellent psot. I liked it with my heart. Such kind of posts are providing valuable information and also boosting us to make such kind of posts. Its really very great post.

    BalasHapus
  11. yang penting majapahit itu adalah kerajaan terbesar sepanjang sejarah nusantara yang yang ada gak ada tandingannya gitu lo...oke....selanjutnya kerajaan kecil2 yang ada gak bisa nyatu lagi baru bapak ir sukarno proklamator...dan sekarang malah pada saling kritik sesama ( orang2 gedi ) yg punya jabatan...rakyat kecil..di indonesia ya bingung di sugui keju ( omongan politik yang tinggi ) padahal masih Bayi ( rakyat rata2 masih lulusan sd,sma ) seharusnya ya di suapin gak usah di beri pertunjukan kayak orang2 sok pintar rumongso iso tapi ora duwe sipat iso tapi rumongso masalahe ora bagiane...ilmu kelakon kanti laku ( buku - guru - praktek ) nak bupati iso crito yo kudu iso ngakono dadi bupati maksute,,,,ora tau dadi bupati kok crito masalahe BUPAti yo kleru ngono....nak guru isone ngulang nak wong tani yo garap sawah ojo sok iso dadi bupati....heheheheheheh...isone do crito bloko......teori......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju sekali, mari kita sebagai pewaris Majapahit (saya katakan Majapahit karena "TIDAK PERNAH DIJAJAH") kita implementasikan kembali visi dan misi "Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa", jangan hanya pandai mengkritik, tetapi mawas diri, perlihatkan apa yang bisa kita buat untuk KEBESARAN BANGSA INI. Rahayu, rahayu, rahayu, sagung dumadi.

      Hapus
  12. ...........apapun ghothak ghathik ghathuk,yang pasti nggak ada salahnya kalau dipelajari-ditelusuri lebih lanjut.
    Yang PASTI adalah HILANGNYA BUDAYA KELAUTAN/MARITIM ADALAH SUATU HAL YANG SANGAT PATUT DISAYANGKAN .
    MOSO NEGARA YANG 70% NYA LAUT KOK HARUS BER ORIENTASI KE DARAT.
    Bahwa Daratan kita adalah SANGAT KAYA RAYA ITU ADALAH BETUL,
    TETAPI AKAN HALNYA LAUT YANG MANA KE-ILMU-AN KITA INI SANGAT MISKIN, SAMA SEKALI TIDAK DI JAMAH -TIDAK DIKEMBANGKAN .
    KITA BERPANGKU TANGAN DENGAN DI-CURINYA HASIL2 LAUT KITA OLEH NEGARA LAIN (yang di MANFAATKAN oleh SEBAGIAN BANGSA INI ) .
    AYO KITA KEMBALIKAN LAGI MENJADI *NEGARA KELAUTAN DAN KESATUAN REPUBLIK INDONESIA* momi aboesoemono - KFI - .

    BalasHapus
  13. Iya boss... udah tak baca bukunya tu orang.... memang saya gak yakin ama isi bukunya... salut blog ini.... salam kenal ya... oke

    BalasHapus
  14. fakta jaman sekarang saja bisa diplintir padahal alat2 pencatat/perekam sudah sangat canggih... apalagi sejarah "fatkta tempo doeloe"... bisa mbulak mbalik.... rak karuan...

    BalasHapus
  15. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang hebat. Sejarah juga membuktikan bahwa kerajaan kerajaan besar setelah Kerajaan Majapahit tidak ada yang seluas majapahit, jadi banggalah memiliki Majapahit dengan segala kelebihan dan kekurangannya karena fakta mengungkapkan bahwa hanya Kerajaan Majapahit yang sanggup menyatukan seluruh Nusantara melebihi wilayah nusantara sekarang.

    BalasHapus
  16. seperti orang jawa bilang jarene kae jarene kae........ gak jelas tuh

    BalasHapus
  17. biasanya orang yg membeLokkan sejarah pasti ada mau_nyA YG MENGUNTUNGKAN dirinya ato goLongannya...

    BalasHapus
  18. kepalsuan selalu menipu bumi yang lembut dan jujur
    topeng-topeng putih yang semuci-suci
    selalu laris terjual di pasar-pasar di warung-warung
    karena terlalu banyak manusia busuk
    ingin menutupi kebusukannya

    BalasHapus

Silahkan anda meninggalkan komentar demi kemajuan dan perkembangan blog ini, mohon jangan melakukan spam ..... (pasti akan terhapus secara otomatis)

Komentar

 
Support : Cara Gampang Blog | Majapahit Blog
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. MAJAPAHIT 1478 - All Rights Reserved
Majapahit 1478
Original Design by Creating Website Last Modified by : Johan Purnomo